Friday, March 23, 2012

Sujud Tilawah & Ayat Sajadah

Sujud tilawah adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an Al Karim.
Keutamaan Sujud Tilawah
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)
Begitu juga keutamaan sujud tilawah dijelaskan dalam hadits yang membicarakan keutamaan sujud secara umum.
Dalam hadits tentang ru’yatullah (melihat Allah) terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hingga Allah pun menyelesaikan ketentuan di antara hamba-hamba- Nya, lalu Dia menghendaki dengan rahmat-Nya yaitu siapa saja yang dikehendaki untuk keluar dari neraka. Dia pun memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang sama sekali tidak berbuat syirik kepada Allah. Termasuk di antara mereka yang Allah kehendaki adalah orang yang mengucapkan ‘laa ilaha illallah’. Para malaikat tersebut mengenal orang-orang tadi yang berada di neraka melalui bekas sujud mereka. Api akan melahap bagian tubuh anak Adam kecuali bekas sujudnya. Allah mengharamkan bagi neraka untuk melahap bekas sujud tersebut.” (HR. Bukhari no. 7437 dan Muslim no. 182)
Dalam shahih Muslim, An Nawawi menyebutkan sebuah Bab “Keutamaan sujud dan dorongan untuk melakukannya”.
Dari Tsauban, bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia ditanyakan oleh Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai di sisi Allah. Tsauban pun terdiam, hingga Ma’dan bertanya sampai ketiga kalinya. Kemudian Tsauban berkata bahwa dia pernah menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab,
“Perbanyaklah sujud kepada Allah. Sesungguhnya jika engkau bersujud sekali saja kepada Allah, dengan itu Allah akan mengangkat satu derajatmu dan juga menghapuskan satu kesalahanmu”.
Ma’dan berkata, “Kemudian aku bertemu Abud Darda, lalu menanyakan hal yang sama kepadanya. Abud Darda’ pun menjawab semisal jawaban Tsauban kepadaku.” (HR. Muslim no.488)
Juga hadits lainnya yang menceritakan keutamaan sujud yaitu hadits Robi’ah bin Ka’ab Al Aslamiy. Dia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai amalan yang bisa membuatnya dekat dengan beliau di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sujud Tilawah Wajib Ataukah Sunnah?
Para ulama sepakat (beijma’) bahwa sujud tilawah adalah amalan yang disyari’atkan. Di antara dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar:
“Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian para ulama berselisih pendapat apakah sujud tilawah wajib ataukah sunnah.
Menurut Ats Tsauri, Abu Hanifah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sujud tilawah itu wajib.
Sedangkan menurut jumhur (mayoritas) ulama yaitu Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i, Al Laitsi, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Daud dan Ibnu Hazm, juga pendapat sahabat Umar bin Al Khattab, Salman, Ibnu ‘Abbas, ‘Imron bin Hushain, mereka berpendapat bahwa sujud tilawah itu sunnah dan bukan wajib.
Dalil ulama yang menyatakan sujud tilawah adalah wajib, yaitu firman Allah Ta’ala,
“Mengapa mereka tidak mau beriman? dan apabila Al Quraan dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.” (QS. Al Insyiqaq: 20-21).
Para ulama yang mewajibkan sujud tilawah beralasan, dalam ayat ini terdapat perintah dan hukum asal perintah adalah wajib. Dan dalam ayat tersebut juga terdapat celaan bagi orang yang meninggalkan sujud. Namanya celaan tidaklah diberikan kecuali pada orang yang meninggalkan sesuatu yang wajib.
Yang lebih tepat adalah sujud tilawah tidaklah wajib, namun sunnah (dianjurkan) . Dalil yang memalingkan dari perintah wajib adalah hadits muttafaqun ‘alaih (diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Dari Zaid bin Tsabit, beliau berkata,
“Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bukhari membawakan riwayat ini pada Bab “Siapa yang membaca ayat sajadah, namun tidak bersujud.
Dalil lain yang memalingkan dari perintah wajib adalah perbuatan Umar bin Khattab dan perbuatan beliau ini tidak diingkari oleh para sahabat lainnya ketika khutbah Jum’at.
Pada hari Jum’at Umar bin Khattab pernah membacakan surat An Nahl hingga sampai pada ayat sajadah, beliau turun untuk sujud dan manusia pun ikut sujud ketika itu. Ketika datang Jum’at berikutnya, beliau pun membaca surat yang sama, tatkala sampai pada ayat sajadah, beliau lantas berkata,
“Wahai sekalian manusia. Kita telah melewati ayat sajadah. Barangsiapa bersujud, maka dia mendapatkan pahala. Barangsiapa yang tidak bersujud, dia tidak berdosa.” Kemudian ‘Umar pun tidak bersujud. (HR. Bukhari no. 1077)
Dari sinilah Ibnu Qudamah mengatakan bahwa hukum sujud tilawah itu sunnah (tidak wajib) dan pendapat ini merupakanijma’ sahabat (kesepakatan para sahabat). (Lihat Al Mughni, 3/96)
Tata Cara Sujud Tilawah
[Pertama] 
Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.
[Kedua] 
Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.
[Ketiga]
Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuk salam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,
“Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dianut oleh para ulama salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah masyhur.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/165)
[Keempat] 
Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Wa-il bin Hujr, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir. Beliau pun bertakbir ketika sujud dan ketika bangkit dari sujud.” (HR. Ahmad, Ad Darimi, Ath Thoyalisiy. Hasan)
[Kelima] 
Lebih utama sujud tilawah dimulai dari keadaan berdiri, ketika sujud tilawah ingin dilaksanakan di luar shalat. Inilah pendapat yang dipilih oleh Hanabilah, sebagian ulama belakangan dari Hanafiyah, salah satu pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Dalil mereka adalah:

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al Isro’: 107).
Kata mereka, yang namanya yakhirru (menyungkur) adalah dari keadaan berdiri.
Namun, jika seseorang melakukan sujud tilawah dari keadaan duduk, maka ini tidaklah mengapa. Bahkan Imam Syafi’i dan murid-muridnya mengatakan bahwa tidak ada dalil yang mensyaratkan bahwa sujud tilawah harus dimulai dari berdiri. Mereka mengatakan pula bahwa lebih baik meninggalkannya. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/449) 


Bagaimana Tata Cara Sujud Tilawah bagi Orang yang Sedang Berjalan atau Berkendaraan?
Siapa saja yang membaca atau mendengar ayat sajadah sedangkan dia dalam keadaan berjalan atau berkendaraan, kemudian ingin melakukan sujud tilawah, maka boleh pada saat itu berisyarat dengan kepalanya ke arah mana saja. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/450 dan lihat pula Al Mughni)
Dari Ibnu ‘Umar: Beliau ditanyakan mengenai sujud (tilawah) di atas tunggangan. Beliau mengatakan, “Sujudlah dengan isyarat.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
Bacaan Ketika Sujud Tilawah
Bacaan ketika sujud tilawah sama seperti bacaan sujud ketika shalat. Ada beberapa bacaan yang bisa kita baca ketika sujud di antaranya:
(1) Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika sujud beliau membaca:
Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] (HR. Muslim no. 772)
(2) Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud:
Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku] (HR. Bukhari no. 817 dan Muslim no. 484)
(3) Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca:
Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)
 

Bolehkah Melakukan Sujud Tilawah di Waktu Terlarang untuk Shalat?
Sujud tilawah boleh dilakukan di waktu terlarang untuk shalat.Alasannya, karena sujud tilawah bukanlah shalat. Sedangkan larangan shalat di waktu terlarang adalah larangan khusus untuk shalat. Inilah pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama. Inilah pendapat Imam Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Hazm. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/452)
Bagaimana Ketika Membaca Ayat Sajadah, Luput Dari Sujud Tilawah?
Dianjurkan bagi orang yang membaca ayat sajadah atau mendengarnya langsung bersujud setelah membaca ayat tersebut, walaupun mungkin telat beberapa saat. Namun, apabila sudah lewat waktu yang cukup lama antara membaca ayat dan sujud, maka tidak ada anjuran sujud sahwi karena dia sudah luput dari tempatnya. Inilah pendapat Syafi’iyah dan Hanabilah. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/452)
Bagaimana Jika Ayat Sajadah Berada Di Akhir Surat?
Surat yang terdapat ayat sajadah di akhir adalah seperti surat An Najm ayat 62 dan surat Al ‘Alaq ayat 19. Maka ada tiga pilihan dalam kasus ini.
[Pilihan pertama] Ketika membaca ayat sajadah lalu melakukan sujud tilawah kemudian setelah itu berdiri kembali dan membaca surat lain kemudian ruku’.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Umar bin Khaththab. Ketika shalat shubuh, beliau membaca surat Yusuf pada raka’at pertama. Kemudian pada raka’at kedua, beliau membaca surat An Najm (dalam surat An Najm terdapat ayat sajadah, pen), lalu beliau sujud (yaitu sujud tilawah). Setelah itu, beliau bangkit lagi dari sujud kemudian berdiri dan membaca surat “Idzas samaa-un syaqqot” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Rozaq dan Ath Thohawiy dengan sanad yang shahih)
[Pilihan kedua] Jika ayat sajadah di ayat terakhir dari surat, maka cukup dengan ruku’ dan itu sudah menggantikan sujud.
Ibnu Mas’ud pernah ditanyakan mengenai surat yang di akhirnya terdapat ayat sajadah, “Apakah ketika itu perlu sujud ataukah cukup dengan ruku’?” Ibnu Mas’ud mengatakan, “Jika antara kamu dan ayat sajadah hanya perlu ruku’, maka itu lebih mendekati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih)
[Pilihan ketika] Jika ayat sajadah di ayat terakhir di suatu surat, ketika membaca ayat tersebut, lalu sujud tilawah, kemudian bertakbir dan berdiri kembali, lalu dilanjutkan dengan ruku’ tanpa ada penambahan bacaan surat.
Dari tiga pilihan di atas, cara pertama adalah yang lebih utama. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 453-454)
Bagaimana Jika Membaca Ayat Sajadah Di Atas Mimbar?
Jika ayat sajadah dibaca di atas mimbar, maka dianjurkan pula untuk melakukan sujud tilawah dan para jama’ah juga dianjurkan untuk sujud. Namun apabila sujud itu ditinggalkan, maka ini juga tidak mengapa. Hal ini telah ada riwayatnya sebagaimana terdapat pada riwayat Ibnu ‘Umar yang telah lewat.
Di Mana Sajakah Ayat Sajadah?
Ayat sajadah di dalam Al Qur’an terdapat pada 15 tempat. Sepuluh tempat disepakati. Empat tempat masih dipersilisihkan, namun terdapat hadits shahih yang menjelaskan hal ini. Satu tempat adalah berdasarkan hadits, namun tidak sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian melakukan sujud tatkala bertemu dengan ayat tersebut. (Lihat pembahasan ini di Shahih Fiqih Sunnah, 1/454-458)
Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah
1. QS. Al A’rof ayat 206
2. QS. Ar Ro’du ayat 15
3. QS. An Nahl ayat 49-50
4. QS. Al Isro’ ayat 107-109
5. QS. Maryam ayat 58
6. QS. Al Hajj ayat 18
7. QS. Al Furqon ayat 60
8. QS. An Naml ayat 25-26
9. QS. As Sajdah ayat 15
10. QS. Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)
Empat ayat yang termasuk ayat sajadah namun diperselisihkan, akan tetapi ada dalil shahih yang menjelaskannya
1. QS. Shaad ayat 24
2. QS. An Najm ayat 62 (ayat terakhir)
3. QS. Al Insyiqaq ayat 20-21
4. QS. Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)
Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi) yang menjelaskannya, yaitu surat Al Hajj ayat 77.
Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar.
Ibnu Qudamah mengatakan,
“Kami tidaklah mengetahui adanya perselisihan di masa sahabat mengenai ayat ini sebagai ayat sajadah. Maka ini menunjukkan bahwa para sahabat telah berijma’ (bersepakat) dalam masalah ini.” (Al Mughni, 3/88)
Demikian pembahasan mengenai sujud tilawah. Semoga risalah ini bisa menjadi ilmu bermanfaat bagi kita sekalian. Ya Allah, berilah manfaat terhadap apa yang kami pelajari, ajarilah ilmu yang belum kami ketahui dan tambahkanlah selalu ilmu kepada kami.
Alhamdulillahilladz i bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
***
Sumber:  Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal

Saturday, March 17, 2012

22/01/2012: TINGKATKAN IMAN

Tempat: Empire, Jerudong
 
9:38
 
9:39


 Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu, apabila dikatakan kepada kamu: "Pergilah beramai-ramai untuk berperang pada jalan Allah", kamu merasa keberatan (dan suka tinggal menikmati kesenangan) di tempat (masing-masing)? Adakah kamu lebih suka dengan kehidupan dunia daripada akhirat? (Kesukaan kamu itu salah) kerana kesenangan hidup di dunia ini hanya sedikit jua berbanding dengan (kesenangan hidup) di akhirat kelak. 

Jika kamu tidak pergi beramai-ramai (untuk berperang pada jalan Allah - membela ugamaNya), Allah akan menyeksa kamu dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya dan Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat mendatangkan bahaya sedikitpun kepadaNya. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. 

 ~ Surah At-Taubah 9:38-39

  • Jihad kita di zaman ini adalah dalam meninggalkan nikmat dunia
  • Kenapakah kita berasa tenang bila mendekatkan diri dengan alam maya, seperti di pantai, dll???? Ianya kerana.......
17:44

 Langit yang tujuh dan bumi serta sekalian makhluk yang ada padanya, sentiasa mengucap tasbih bagi Allah; dan tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya; akan tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penyabar, lagi Maha Pengampun. 
~ Surah Al-Ísra' 17:44

  • Semua ciptaan tuhan di alam maya ini bertasbih kepada Allah.... setiap batu, air, awan dll diciptakan hanya untuk memuji Allah swt.
  • Tatkala kita berdoa kepada Allah, mereka akan ikut serta mengaminkan.... tatkala kita berbuat  maksiat, mereka akan menjadi saksinya..... 
  • Tuhan ciptakan alam ini agar menjadi bukti akan kebesaranNya.... 
 6:75

 Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Nabi Ibrahim kebesaran dan kekuasaan (Kami) di langit dan di bumi, dan supaya menjadilah ia dari orang-orang yang percaya dengan sepenuh-penuh yakin.
~ Surah Al-Án'am 6:75

  • Contohilah alam.... tingkatkanlah iman... berdoalah untuk ketakwaan dan ketetapan iman....
Aku redha Allah tuhanku
Islam agamaku
Muhammad nabiku

SURAH TASBIH

Di dalam Al-Quran terdapatnya 7 surah yang dipanggil ‘Surah Tasbih‘. 7 surah tersebut adalah:
 .
1- Al-Isra’,
2-Al-Hadid.
3- Al-Hasyr.
4- As-Saf.
5- Al-Jumat.
6- At-Thaghabun.
7- Al-A’la.
.
Kesemua 7 surah tersebut dimulai dengan ‘Tasbih’ memuji Allah SWT. Secara tidak langsung angka ini berhubung kait dengan lapisan langit dan bumi yang tujuh di mana terdapatnya dan menghuninya seluruh makhluk yang Maha Khaliq.
 .
Firman Allah SWT :
 17:44
“Tujuh lapis langit dan bumi serta seluruh makhluk yang ada padanya sentiasa bertasbih kepada Allah; dan tiada suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Surah: Isra 17; Ayat 44).

.
.

Permulaan Surah Tasbih

Sesiapa yang sering membaca surah-surah ini, InsyaAllah akan dimurahkan rezeki, memperolehi ketenangan dan memahami tujuan dirinya wujud di dunia ini. Mari kita lihat permulaan 7 surah Al-Quran yang bermula dengan ‘Tasbih’  (Pujian kepada Allah SWT) ini:
.
1.  (Surah Al-Isra’ 17; Ayat 1)
 17:1
Maha Suci Allah yang telah menjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Al Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
.
.
2.  (Surah Al-Hadid 57; Ayat 1)
 57:1
Segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah); dan Dia lah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
.
.
3.  (Surah Al-Hasyr 59; Ayat 1).
 59:1

Segala yang ada di langit dan di bumi tetap mengucap tasbih kepada Allah; dan Dialah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
.
.
4.  (Surah As-Saf 61; Ayat 1).

 61:1

Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
.
.
5.  (Surah Al-Jumaat 62; Ayat 1).
 62:1

Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi sentiasa mengucap tasbih kepada Allah Yang Menguasai (sekalian alam), Yang Maha Suci, Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
.
.
6.  (Surah At-Thaghabun 64; Ayat 1)

64:1
  
Sentiasa bertasbih kepada Allah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi; dan hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan bagiNyalah segala pujian; dan Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.
.
.
7.  (Surah Al-A’la 87; Ayat 1).

87:1
Bertasbihlah mensucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (dari segala sifat-sifat kekurangan).
.
.
Surah-surah tersebut membuktikan Alam Semesta sentiasa bertasbih dan sujud kepada Allah SWT. Oleh yang demikian yakinlah bahawa segala sumber kekayaan alam ini adalah di tangan Allah SWT.

16/03/2012: BERINTERAKSI DENGAN AL-QURAN part 1


Penurunan Al-Quran dalam 3 tahap:
Tahap pertama, A-Qur’an diturunkan secara keseluruhan(sedebuk) ke lawh al-mahfuz(Lohmahfuz).
بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٌ۬ مَّجِيدٌ۬ (٢١) فِى لَوۡحٍ۬ مَّحۡفُوظِۭ (٢٢ 
“Bahkan dialah al-Quran yang mulia, berada di lawh mahfuz.” – (Al-Buruj:21-22)

Tahap kedua, dari Lohmahfuz ia diturunkan ke bayt al’izzah yang terletak di langit dunia pada malam Lailatulqadar.
شَہۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدً۬ى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَـٰتٍ۬ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِ‌ۚ فَمَن شَہِدَ مِنكُمُ ٱلشَّہۡرَ فَلۡيَصُمۡهُ‌ۖ وَمَن ڪَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٍ۬ فَعِدَّةٌ۬ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَ‌ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِڪُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِڪُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُڪۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُڪَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمۡ وَلَعَلَّڪُمۡ تَشۡكُرُونَ (١٨٥
“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeza.” – (al-Baqarah:185)

إِنَّآ أَنزَلۡنَـٰهُ فِى لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ (١) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ (٢) لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٌ۬ مِّنۡ أَلۡفِ شَہۡرٍ۬ (٣

“Sesungguhnya, kami telah menurunkannya(al-Quran) pada malam Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah itu Lailatulqadar? Ia lebih baik daripada 1000 bulan.” – (al-Qadr:1-3)

Dengan dalil-dalil ini menunjukkan bahawa……semua peristiwa dan cerita di dalam al-Quran telah ditetapkan oleh Allah swt yang memang akan berlaku satu demi satu sehinggalah hari Qiamat. Ini lah yang dikatakan sebagai projek Allah azzawajalla. Qadho’ dan Qadhar Allah swt ini tidak kita ketahui, oleh itu kita kena berusaha kearah kebaikan seperti mana garis panduan yang diberikan oleh Allah swt di dalam al-Qur’an dan Hadith.


Tahap ketiga, dari Baitul’izzah ia diturunkan beransur-ansur kepada Rasululah saw melalui Malaikat Jibril.
Ibnu Abbas menyatakan;

“Al-Quran itu diturunkan pada malam Lailatuqadar dalam bulan Ramadan ke langit dunia secara sekali gus, kemudian diturunkan secara beransur-ansur.”

Penurunan ini berlaku selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari (23 tahun)
Iaitu 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.


Penurunan al-Quran mengikut suasana/keadaan ketika itu. Kita panggil sebagai mulabasat al-Quran. 

Di Makkah, 3 tahun pertama adalah dalam suasana dakwah Rasulullah saw secara sembunyi(Sir), kemudian 7 tahun dalam suasana dakwah Rasulullah saw secara terang-terangan(Jahr) dan 3 tahun dalam suasana dakwah Rasulullah saw keluar dari Kota Makkah.(semuanya 13 tahun dan kebanyakan ayat yang diturunkan adalah untuk membaiki aqidah jahiliyyah ke aqidah Islam)

Kemudian berlaku penghijrahan Rasulullah saw ke Madinah. Banyak berlaku peperangan di peringkat ini. Maka ayat ayat yang turun bersesuaian dengan keadaan ini. Kebanyakan ayat hukum hakam turun di zaman ini. 

Zaman Madinah:
Ada 2 fasa,
Fasa 1 : 5 thn pertama dakwah secara defensive iaitu umat Islam telah diserang oleh musuh, maka mereka lebih kepada
mempertahan diri. Peperangan yang terlibat seperti perang Badar, perang Uhud, perang Khandak dan lain-lain.

Fasa 2 : 5 thn akhir dakwah secara offensive iaitu berlaku pembentukan kerajaan Islam dan umat Islam mula mengembangkan wilayahnya. Peperangan yang terlibat seperti peperangan Hunain, peperangan Tabuk dan lain-lain.

Beza Surah Makkiyah & Surah Madaniyah

Surah Makkiyah:
  • Untuk membetulkan akidah dan memantapkan iman
  • Ajaran kepada tauhid & beribadah hanya kepada Allah
  • Pembuktian mengenai kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, syurga dan nikmatnya
  • Peletakan dasar-dasar umum bagi perundangan & akhlak mulia
  • Penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
Surah Madaniyah:
  • Kebanyakannya mengenai hukum
  • menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, kaedah hukum dan masalah perundangan
  • Seruan kepada ahli kitab, dari kalangan yahudi dan nasrani. dan ajakan kepada mereka untuk masuk islam
  • menyingkap perilaku orang munafik 


Siapa yang menyusun surah-surah di dalam al-Qur’an mengikut susunan seperti sekarang?
Setiap tahun, Jibril datang bersolat dengan Rasulullah saw pada bulan Ramadhan. Jibril membaca mengikut susunan yang dikehendaki oleh Allah swt (Taufiqi). Setiap tahun bacaan dalam solat bertambah lama kerana berlaku pertambahan surah-surah. Sehinggalah lengkap satu al-Quran seperti sekarang.


Bagaimana hendak berinteraksi dengan al-Quran sebagaimana di zaman Rasulullah saw?

Mereka seolah-olah berkata-kata dengan al-Quran. Mengikut arahan dan saranan yang ada di dalamnya dengan tanpa banyak soal. Mereka yakin setiap yang ada di dalamnya adalah benar belaka dan membawa kebaikan. 

MEMBACA AL-QURAN

Pernahkah kita tidak merasa apa-apa ketika membaca Al-Quran? macam biasa je perasaan….. no feeling…

Ketika hendak membaca pun kadang-kadang terasa berat, apatah lagi hendak memahami atau menghayati, dan hendak diamalkan dan kemudian jadi pemangkin kepada cara hidup kita.

Seperti……… tidak terkesan dengan apa yang kita baca; tak dapat nak mengubah cara kita berfikir dan cara amalan hidup kita, seolah-olah kita di satu pihak dan Al-Quran di satu pihak yang lain. Sedangkan kita tahu ia adalah wahyu daripada Allah.


Sebenarnya kita sendiri yang tidak faham Al-Quran

Lihat contoh mereka yang faham (Fiqh) dengan Al-Quran:

Nabi Muhammad saw bangun dari selimut dan berdakwah bila turun 6 ayat surah Al-Muddathir

Umar r.a. terus masuk Islam bila baca surah Toha
- طه (١) مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ (٢) إِلَّا تَذۡڪِرَةً۬ لِّمَن يَخۡشَىٰ (٣) تَنزِيلاً۬ مِّمَّنۡ خَلَقَ ٱلۡأَرۡضَ وَٱلسَّمَـٰوَٲتِ ٱلۡعُلَى (٤) ٱلرَّحۡمَـٰنُ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ ٱسۡتَوَىٰ (٥) لَهُ ۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَہُمَا وَمَا تَحۡتَ ٱلثَّرَىٰ (٦) وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُ ۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ وَأَخۡفَى (٧)
Toha(1) Kami tidak menurunkan Al-Quran kepadamu supaya engkau menanggung kesusahan (2); Hanya untuk menjadi peringatan bagi orang yang bertaqwa (3); (Al-Quran) diturunkan dari (Allah) yang telah mencipta bumi dan langit yang tinggi (4); iaitu (Allah) yang bersemayam di atas arasy (sesuatu dengan kelayakanNya) Dialah juga yang memiliki segala yang dilangit dan dibumi, serta yang di antara keduanya (5) dan juga yang dibawah tanah (perut bumi)

Baru beberapa sahaja ayat Umar menbacanya, terbitlah daripada mulut Umar, “ Alangkah indahnya kata-kata ini dan alangkah mulianya”. Kemudian terus membacanya sehingga ayat 12.

Sahabat tuang arak sehingga bumi Madinah basah(becak) bila turun ayat pengharaman arak.
Tabi’in besar Said bin Musayyaf (tua; kening dah turun; buta mata sebelah) pergi berperang walaupun uzur kerana faham ayat Allah 9:41 At-Taubah
ٱنفِرُواْ خِفَافً۬ا وَثِقَالاً۬ وَجَـٰهِدُواْ بِأَمۡوَٲلِڪُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ ذَٲلِكُمۡ خَيۡرٌ۬ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun berasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”

Jadi macamana kita nak faham dan berinteraksi dengan Al-Quran seperti mereka?

5 Perkara Penting Dihayati Untuk Berinteraksi Dengan Al-Quran.

I. Merasai Al-Quran diturunkan untuk diri kita
II. Memahami Bahasa Arab
III. Menggunakan hati yang berperasaan
IV. Memahami sebab dan latarbelakang penurunan ayat.
V. Menyedari siapa kita.

AL-QURAN UNTUK KITA

Cuba perhatikan ayat pertama Surah Al-Ikhlas قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ yang maksudnya, Katakanlah (wahai Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa “
Banyak al-Quran terjemahan menulis “Katalah( wahai Muhammad)”, cara pentejemahan dari bahasa Arab ke bahasa Melayu bergantung kepada penterjemah. Hakikatnya……..walaupun dikala itu untuk Nabi Muhammad saw, ia adalah untuk kita.
 
Sepatutnya, dikala kita baca surah ini kita sepatutnya berfahaman; “Katakanlah(wahai Shuhada)” atau “katakanlah(wahai Azura)”) atau “Katakanlah(wahai Zuraidah)” atau “Katakanlah (wahai si pembaca)”, Katakanlah bahawa Dialah Allah, Yang Maha Esa. Al-Quran diturunkan untuk Nabi Muhammad dan juga untuk KITA.

Terdapat perbezaan perasaan(feel) ketika membaca orang punya berbanding kita punya…
Contohnya membaca surat cinta;
Membaca surat cinta kepunyaan orang lain tidak memberi kesan mendalam dalam hati kita berbanding membaca surat cinta yang memang kepada kita sendiri. Bila je baca “ Yang dikasihi dan yang dicintai adinda disana, semoga sihat sejahtera. Senyumlah selalu , semoga hati kekanda gembira. Bila kita dapat berjumpa? Rasa rindu tidak terkira. Kalau adinda menyayangi kekanda, tunggulah buat setahun dua ini. Pasti rombongan datang ke rumah.”
Berbunga-bunga hati si adinda, apapun rintangan akan tetap menunggu kekanda walaupun melebihi setahun dua…..
Perasaan seperti ini tidak akan wujud dalam hati kita jika surat itu kawan kita punya. Tidak perlu menunggu, tidak terasa bangga, hatipun tidak berbunga.

Begitulah juga Al-Quran, Jika kita merasai ia diturunkan hanya kepada Nabi, payahlah kita nak merasai apa-apa. Melainkan kita beranggapan ia diturunkan untuk kita. Allah swt berkata-kata dengan kita. Menasihati kita. Menunjuk jalan terbaik yang patut kita ikuti. Jika kita terasa kita dengan Allah ada hubungan tertentu (Kekasih….Tuan….Raja…Menyayangi kita….Memelihara kita….Penyelamat…Pemberi rezeki yang selama ini kita hidup senang….tak terkira,melebihi segala-galanya…) maka, kita dengan senang hati menuruti segala kata-kataNya. Jika kita tidak terasa kita ada hubungan Allah, maka…..kita akan acuh-tak acuh (tidak mengambil berat) setiap kata-kataNya.

Hadis surah Fatihah

Bila kita membaca Al-Quran, sebenarnya Allah sedang berinteraksi dengan kita. Allah menjawab bacaan kita. Dalam Surah Al-Fatihah, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim..
”….. apabila hamba itu berkata , ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٢) Allah menjawab `hamba-Ku memuji akan daku’; apabila hamba itu berkata ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ (٣) Allah menjawab `hamba-Ku memberi sanjungan kepadaKu’; apabila hamba itu berkata مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ (٤) , Allah menjawab hamba-Ku telah mengagungkan aku dan firmanNya lagi, hambaKu telah menyerahkan kepada-Ku, apabila hamba itu berkata إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ (٥) , Allah menjawab ‘Ini di antara hamba-Ku dengan-Ku, untuk hamba-Ku apa sahaja yang dipohonkannya kepada-Ku, apabila hamba itu berkata ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ (٦) صِرَٲطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ (٧) , Allah menjawab ‘ini untuk hamba-Ku, untuk hamba-Ku, apa sahaja yang dipohonkannya kepada-Ku’ (Hadith Sahih Muslim)

Itulah rahsia surah Al-Fatihah di dalam solat yang merupakan dialog di antara Allah dengan hamba-Nya; sesuai dengan pengertian solat yang bermakna doa (permohonan).

Begitu juga dalam bacaan ayat-ayat sajadah (ada 14 tempat di dalam Al-Quran kita di minta berinteraksi dengan Allah dengan sujud kepada-Nya. Jadi perlu ada penghayatan dan kefahaman dalam bacaan Al-Quran, agar ia masuk ke dalam hati dan terkesan dalam hati; apatah lagi bila dalam solat, kita sebenarnya berkata-kata, bermunajat, memohon dan merayu kepada Allah.

Begitu juga dengan ayat-ayat tasbih seperti dalam surah Al A’Laa (Yang Paling Tinggi)bila dibacakan سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى (١ kita dikehendaki menjawab “subhanaribiyal a’Laa” (seperti bacaan dalam sujud)…

Bagaimana nak tahu bahawa ayat-ayat dalam Al-Quran itu untuk kita?

Kita kena faham “Dhamir”(ganti nama). Dalam bahasa Arab ada katanama pertama (ana, nahnu); katanama ke-dua (Ka, kuma, kum atau Ki, kuma, kunna); Katanama ke-tiga (hua, huma, hum atau hia, huma dan hunna)

Jadinya bila disebut `Ka’ atau kamu dalam Al-Quran sebenarnya dituju untuk siapa sebenarnya. Jawapannya ada tiga;
(1) `Ka’ pertama ialah khusus untuk Allah seperti إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ (٥)
(2) `Ka’ yang ke-dua ialah khusus untuk nabi Muhammad saw, tak banyak sangat dalam Al-Quran;
(3) `Ka’ yang ke-3 ditujukan kepada kita semua. Majoriti dalam Al-Quran adalah `ka’ untuk kita.
contohnya.
Toha:2
مَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰٓ (٢)
“Kami tidak menurunkan Al-Quran kepadamu supaya engkau menanggung kesusahan (2); “
An-Nasr:3
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَٱسۡتَغۡفِرۡهُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ ڪَانَ تَوَّابَۢا (٣)
“ Maka ucapkanlah tasbih dengan memuji Tuhanmu dan mintalah ampun kepadaNya, sesungguhnya Dia amat menerima taubat “

Kena mengetahui dan menyedari bahawa al-Quran itu adalah untuk diri kita. Kata-kata didalam al-Quran itu dilontarkan kepada kita melalui Rasulullah saw. Demi penyampaian ini…….Rasulullah saw menghadapi pelbagai cabaran dan penghinaan. Namun tidak diendahkan, semata-mata untuk umatnya. Oleh itu, bacalah al-Quran untuk mengetahui isi kandungannya. Memahami, menghayati dan mengamalkannya…..kemudian sampaikanlah kepada yang lain. Kita perlu merasai ingin menyambung perjuangan Rasulullah saw.

Friday, March 16, 2012

13/1/2012: JIHAD



29:69

Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak ugama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keredaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya.
~ Surah Al-Ankabut 29:69


Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini:

1. Bahwa yang dimaksud adalah berjihad melawan kaum musyrikin untuk mencari keridhaan Kami (ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala),
sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qurthubi, Al-Baghawi, dan Ath-Thabari rahimahumullah.

2. Mereka adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para shahabat, dan yang mengikutinya hingga hari kemudian, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa istiqamah berada di jalan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad dari Ahmad bin Abi Al-Hawari, ia berkata: 'Abbas Al-Hamdani Abu Ahmad telah mengabari kami tentang firman Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini, beliau mengatakan: "(Mereka adalah) orang-orang yang mengamalkan apa-apa yang mereka ketahui, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi bimbingan terhadap apa yang mereka belum ketahui." Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Akupun memberitakannya kepada Abu Sulaiman Ad-Darani maka hal itu membuatnya takjub dan berkata: "Tidak sepantasnya bagi yang telah diilhami suatu kebaikan untuk mengamalkannya sampai ia mendengarnya dalam atsar. Apabila dia telah mendengarnya dalam atsar dia pun mengamalkannya dan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala agar sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya." (Tafsir Ibnu Katsir, 3/423)

3. Maknanya adalah bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ' Abbas radhiallahu 'anhuma bahwa beliau berkata: "Orang-orang yang berjihad dalam melaksanakan ketaatan di jalan Kami (yakni jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala), akan Kami tunjukkan jalan-jalan untuk mendapatkan pahala."

Beberapa penafsiran di atas tidaklah saling bertentangan, bahkan saling menguatkan satu sama lain dan saling melengkapi. Mereka yang menyebutkan jihad dengan makna perang tidak mengkhususkan hanya dalam perkara perang, namun menyebutkan salah satu jenis dari amalan jihad tersebut. Sebab jihad meliputi keseluruhan kemampuan yang dikerahkan oleh seorang muslim dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Oleh karena itu, Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Bukanlah jihad di dalam ayat ini hanya terkhusus jihad melawan orang-orang kafir saja. Namun menolong agama, membantah orang yang berada di atas kebatilan, mencegah orang yang dzalim, dan yang mulia adalah beramar ma'ruf nahi mungkar. Dan di antaranya pula adalah berjihad melawan hawa nafsu dalam ketaatan kepada Allah yang merupakan jihad akbar." (Tafsir Al-Qurthubi, 13/364-365)


APAKAH DIA IMAN?

Ali bin Abi Talib r.a. berkata: "Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota."

Aisyah r.a. pula berkata: "Iman kepada Allah itu mengakui dengan lisan dan membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota."

Imam al-Ghazali menghuraikan makna Iman adalah: "Pengakuan dengan lidah (lisan) membenarkan pengakuan itu dengan hati dan mengamalkannya dengan rukun-rukun (anggota-anggota)."

Maka orang yang beriman ialah orang yang percaya, mengaku dan beramal.

Di dalam hidup ini, akan ada DUA tarikan kepada manusia:  Tarikan Iman & Tarikan Nafsu.... maka hendaklah kita berjihad dalam melawan nafsu kita.... dan sentiasalah perbetulkan niat kita....

Thursday, March 15, 2012

Surah Ad-Dhuha (93)

Surah ini merupakan surah makkiyah. Turun ketika Nabi SAW sedang bersendirian. Surah ini turun setelah berlaku suatu tempoh masa tiadanya wahyu baru yang turun kepada baginda sehingga menimbulkan fitnah di kalangan penduduk di Kota Makkah.

Hadith daripada Jundub RA, ia berkata, bahawasanya Rasulullah SAW telah tidak bangun untuk berqiyamullail selama 1 atau 2 malam. Kemudian telah datang kepada baginda seorang wanita seraya bertanya, "Bagaimanakah syaitanmu wahai Rasulullah?" Nabi SAW diam. Setelah itu Allah telah menurunkan surah Ad-Dhuha sebagai jawapan kepada wanita tersebut. [Muttafaqun Alaih]

Dalam hadith yang lain pula, Ibn Abbas RA berkata, bahawasanya Ummu Jamil (isteri Abu Lahab) telah berkata, "Malaikat dan wahyu sudah tidak turun lagi. Tuhan telah memutuskan hubungan dengan dia". kemudian Ummu Jamil telah menyebarkan perkara tersebut ke khalayak ramai. Akibatnya Rasulullah SAW berasa susah hati. Lalu Allah telah menurunkan Surah Ad-Dhuha.

Ayat 1:
Maksudnya - Demi waktu DhuhaPenjelasan :
  • Allah bersumpah dengan waktu Dhuha (waktu naik matahari)

  • Allah bersumpah pada waktu Dhuha kerana Ummu Jamil telah menyebarkan fitnahnya tentang pemberhentian wahyu pada waktu-waktu tersebut.


Ayat 2:
Maksudnya - Dan demi malam apabila telah sunyi
Penjelasan :
  • Allah bersumpah dengan waktu malam (apabila ia menjadi gelap)

  • Kerana telah bertanya wanita dalam hatith pertama tadi tentang waktu malam baginda.


Ayat 3:
Maksudnya - Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada (pula) benci padamu
Penjelasan :
  • Allah tidak sekali-kali meninggalkan Rasulullah SAW bersendirian sewaktu fitnah-fitnah terebut melanda.

  • Allah bersumpah bahawa Allah tidak meninggalkan Rasulullah SAW pada waktu Dhuha ataupun waktu malam.

  • Allah menyayangi dan menjaga baginda sejak dari dalam kandungan hinggalah pada ketika surah itu diturunkan.


Ayat 4:
Maksudnya - Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan
Penjelasan :
  • Allah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai Pemimpin Agung di dunia dan di akhirat.


Ayat 5:
Maksudnya - Dan kelak tuhanmu pasti memberikan kurnianya kepadamu lalu hati kamu menjadi puas.Penjelasan :
  • Akan diberikan kepada Rasulullah SAW (di akhirat) segala nikmat yang paling besar yakni boleh mensyafaatkan sekalian manusia dan juga sungai Al-Kautsar di dalam syurga.


Ayat 6:
Maksudnya - Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang anak yatim, lalu Dia melindungimu.
Penjelasan -
  • Allah telah mengurniakan Nabi SAW dengan ibu-ibu susuan dan orang-orang yang mendidik baginda sewaktu ibu baginda masih hidup.
  • Setelah kewafatan ibu baginda, Allah telah mengirimkan orang-orang yang menjaga Nabi Muhammad SAW sehingga dewasa. (Abdul Mutalib, Abu Talib)


Ayat 7:
Maksudnya - Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
Penjelasan -
  • Muhammad bukanlah tergolong dalam golongan Nabi dan Rasul sehinggalah umur Baginda 40 tahun, 2 bulan, 12 hari.
  • Setelah tiba masanya, Allah melantik Muhammad Bin Abdullah sebagai seorang Rasul.
  • Ini bermakna Allah telah menaikkan darjat baginda sebagai seorang Nabi dan Rasul.


Ayat 8:
Maksudnya - Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupanPenjelasan -
  • Nabi Muhammad SAW lahir dalam keluarga yang sangat susah lalu Allah menjadikan Nabi seorang yang kaya.
  1. Dengan kurniaan Agama Islam
  2. Dengan terbentuknya sebuah Negara Islam
  3. Dengan perkahwinan baginda denag seorang saudagar yang kaya raya (Siti Khadijah).
  4. Mempunyai para sahabat yang jujur dan ikhlas dalam memperjuangkan Agama Islam.
  5. Dikurniakan segala kenikmatan syurga.


Ayat 9:
Maksudnya - Adapun terhadap anak yatim maka janganlah diambil hartanya.


Ayat 10:
Maksudnya - dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu mengherdiknya

Ayat 11:
Maksudnya - Dan terhadap nikmat tuhanmu maka hendaklah kamu sentiasa bersyukur

Surah Ad-Dhuha paling afdhal dibaca ketika solat Dhuha.

Fadhilat surah Ad-Dhuha
  • Mengeratkan hubungan dengan Allah SWT
  • Mendapat kemudahan hidup
  • Dikabulkan permintaan
  • Untuk menenangkan jiwa dari kesedihan dan kekacauan.

Wednesday, March 14, 2012

5/1/2012: MUNAJAT KEPADA ALLAH

Munajat berasal dari bahasa Arab yg maknanya merahsiakan..
Jadi maksud Munajat atau Bermunajat ialah mendekati Allah dgn cara berdoa atau berzikir dan lain-lain...

Pengertian ibadah....

Dari segi bahasa 'ibadah bererti merendah diri, tunduk patuh dan ta'at 
Dari segi syara' pula 'ibadah diertikan sebagai ta'at, tunduk, patuh dan merendah diri kepada Allah 
Jelasnya, 'ibadah ialah peng'abdian diri sepenuhnya kepada Allah
 
Dari segi ini Al-Our'an menjelaskan, 'ibadah sebagai ubudiyyah dan keta'atan. 

Islam mempunyai keistimewaan dengan menjadikan seluruh kegiatan manusia sebagai 'ibadah apabila ia diniatkan dengan penuh ikhlas kerana Allgh demi untuk mencapai keredaan-Nya serta dikerjakan menurut cara-cara yang disyari'atkan oleh-Nya.  Islam tidak menganggap 'ibadah-'ibadah tertentu sahaja sebagai amal salih malah ia meliputi segala kegiatan lain.

Apa sahaja kegiatan dan perbuatan yang dilakukan oleh seorang muslim dengan penuh ikhlas untuk mendapatkan keredaan Allah serta dikerjakan menurut ketetapan-ketetapan syara' maka ianya dianggap sebagai 'ibadah yang dikumpulkan sebagai 'amal salih'. Oleh itu ruang lingkup 'ibadah di dalam islam sangatlah luas Ia adalah seluas tempoh hayat seseorang muslim dan kesanggupan serta kekuatannya untuk melakukan apa sahaja 'amal yang diredai oleh Allah di dalam tempoh tersebut.

DOA ADALAH IBADAH.....

Doa adalah senjata orang mukmin.
 Surah Al-Furqan 25:77
Katakanlah (wahai Muhammad kepada golongan yang ingkar): "Tuhanku tidak akan menghargai kamu kalau tidak adanya doa ibadat kamu kepadaNya; (apabila kamu telah mengetahui bahawa Tuhanku telah menetapkan tidak menghargai seseorang pun melainkan kerana doa ibadatnya) maka sesungguhnya kamu telahpun menyalahi (ketetapan Tuhanku itu); dengan yang demikian, sudah tentu balasan azab (disebabkan kamu menyalahi itu) akan menimpa kamu". 

Nabi Yunus as. adalah seorang nabi yang sentiasa berdoa - walaupun di dalam senang.  Semasa Nabi Yunus as. berada di dalam perut ikan, beliau sentiasa membaca doa ini:

 لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحانَكَ إِنّى‏ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمينَ
"Tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau; Maha suci Engkau, aku termasuk orang-orang yang zalim "
Cara-cara berdoa:
Ada cara-cara yang dapat anda semua lakukan agar doa anda itu mudah makbulnya di sisi Allah SWT. Antaranya:
 
1.  Bertaubatlah terlebih dahulu dengan membaca kalimat Al-Istighfar. 
Firman Allah SWT: “…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

2.  Menadah tangan dan menghadap kiblat sewaktu membaca doa. 
Sabda Rasulullah SAW: “Tuhan kamu Maha Pemalu dan Maha Pemurah. Dia malu jika hamba-Nya sudah mengangkat tangan berdoa kepada-Nya lalu tidak diberi.” (Hadis riwayat At-Tirmizi dan Ibn Majah)

3.  Mulakan doa dengan ta’awudz terlebih dahulu untuk mengelakkan kita daripada gangguan syaitan. Contohnya, “Aku berlindung kepada Allah daripada godaan syaitan yang direjam.”

4.  Mulakanlah doa kita dengan memuji Allah SWT dan akhirilah dengan membaca selawat ke atas Nabi Muhammad SAW. Doa tanpa memuji Allah SWT, tasbih dan selawat ke atas Nabi dikira gopoh dan tidak cukup sopan.

5.  Lontarkanlah suara kita antara suara terdengar dan suara yang agak perlahan.

6.  Harus yakin bahawa doa kita akan diperkenankanNya, jangan sekali-kali meragui kekuasaan Allah melayani permintaan hamba-hambaNya.

7.  Ulanglah doa kita berkali-kali dan bersungguh-sungguhlah dalam memintanya. Hendaklah dilakukan dengan penghadiran hati, rendah diri, mengakui kelemahan dan menjiwai kebesaran Allah SWT.

  • Doa dikabulkan secara direct (terus), perantaraan atau di akhirat
  • Nilai seseorang di depan Allah bergantung kepada doanya

 Tempat & Waktu yang terbaik untuk berdoa

Pemilihan tempat dan waktu yang terbaik untuk berdoa juga penting dalam memastikan sampainya doa kita kepada Dia Yang Maha Kuasa.


Tempat:

1.  Ketika kita melihat Kaabah.
2.  Ketika kita melihat masjid Rasulullah SAW.
3.  Ketika berada di depan Kaabah.
4.  Ketika kita berada di Raudah (Masjid Nabi).
5.  Di belakang makam Nabi Ibrahim a.s.
6.  Di sisi perigi zamzam.
7.  Di atas Bukit Safa dan Marwah.
8.  Di padang Arafah.
9.  Di Muzdalifah.
10. Di Mina.
11. Di sisi jumrah yang ketiga.
12. Di masjid-masjid.
13. Di surau-surau.



Masa:

1.  Ketika menuju ke medan perang.
2.  Dalam pertempuran di medan perang.
3.  Ketika hujan.
4.  Sesudah berwudhu’.
5.  Selepas azan (antara azan dan iqamah).
6.  Sewaktu sujud.
7.  Di akhir surah Al-Fatihah.
8.  Sesudah membaca Al-Qur’an dan sesudah selesai menunaikan solat fardhu lima waktu.
9.  Di tengah malam.
10. Di sepertiga malam yang pertama dan terakhir bulan Ramadhan.
11. Pada bulan Ramadhan.
12. Malam Lailatulqadar.
13. Pada hari Jumaat.

    Ingatlah agar sentiasa SABAR & SYUKUR


    2:152

    2:153

    Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan; dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu). 
      
    Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya Allah menyertai (menolong) orang-orang yang sabar 
    ~Surah Al-Baqarah 2:152-153


    Orang yang makbul doanya:

    Antara golongan yang doanya mudah dimakbulkan adalah:
    1.  Doa seorang pemimpin yang adil.
    2.  Doa orang yang sedang berpuasa.
    3.  Doa orang yang dizalimi.
    4.  Doa seorang muslim untuk saudaranya.
    5.  Doa seorang anak untuk kedua-dua orang ibu bapanya.
    6.  Doa orang tua kepada anaknya.

    “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
    (Surah Ghafir 40: 60)